jasa arsitektur rumah dan desain villa, klik disini...

Thursday, December 15, 2011

PIKIRAN SELALU GELISAH


Ada yang mengatakan pikiran bagaikan kuda liar yang sulit dipegang dan diarahkan, ada yang mengatakan pikiran bagaikan kera yang tak pernah duduk diam. Pikiran itu memang selalu gelisah. Pikiran itu selalu ingin escape dan ingin escape. Pikiran melecuti kita untuk selalu bergerak dan bergerak. Pikiran dengan sadis dan kejam tidak pernah membiarkan kita untuk berada dalam suasana damai dan menikmati ketenangan walau dalam sekejap, bahkan saat tidurpun pikiran selalu aktif berupa mimpi mimpi.

Sifat pikiran yang selalu berpindah pindah itu membuat kita seperti hidup dalam penjara dari balik jeruji besi. Kita akan selalu memandang keluar, kapan kiranya kita bisa bebas. Pikiran adalah penjara yang melarang kita untuk lega dalam kebebasan. Pikiran mengarahkan kita kemasa depan dan selalu kemasa depan, selalu besok dan selalu besok. Berarti kita merasa tak betah dengan keadaan hari ini. Dengan kata lainnya kita tidak menikmati hari ini. Bagaimanapun indahnya hari ini pikiran segera melecuti kita untuk pergi dari situ dan berfikir besok, besok dan besok. Keadaan ini berlangsung terus terus dan terus.

Kita dibuat selalu tidak puas dengan hari ini. Bahkan sampai menjelang ajalpun kita lupa menikmati hari ini. Kita lupa dengan ketenangan, kita lupa dengan kedamaian, kita lupa dengan hidup. Kita tak pernah hidup. Selalu berlari selalu berlari karena ketakutan, kecemasan, dengan tujuan ingin menikmati ketenangan hidup, kedamaian hidup di hari tua. Tetapi kita lupa bahwa kita sedang menunggangi kuda liar yang tak pernah berhenti yaitu pikiran.

Buanglah kuda itu, turun dan berjalanlah pelan pelan maka kita akan menikmati ketenangan pemandangan hidup yang jenih dan damai, indah dan membahagiakan, bebas dari rasa takut dan kecemasan. Itulah Chanthih.

Kecerdasan hati tahu bahwa seluruh isi alam ini sudah diprogram sedemikian rapi dan sempurna. Sub pertikel atom mempunyai program, atom mempunyai program, molekul mempunyai program, sel mempunyai program. Semua mereka mempunyai program sendiri sendiri yang mengagumkan. Molekul air haruslah H2O, karbohydrat haruslah atom Carbon dan Hydrogen dan molekul molekul protein tertentu haruslah mempunyai rumus atom yang spesifik. Oleh katrena itu alam ini sebenarnya adalah komputer yang sangat dan maha sempurna. Mempunyai hukum hukum baku yang sudah di set sedemikian rupa sesuai untuk alam 4 dimensi, seperti alam kita ini.

Dalam Hukum Karma Phala maka setiap energy pikiran, ucapan dan perbuatan yang dilepaskan ke alam akan tercatat sebagai potensial energy. Kebaikan adalah energy yang dilepaskan ke alam dan alam akan mencatat sebagai simpanan energy, energy dengan tanda Plus (+). Dalam aliran meditasi Falun Gong disebut ”De”. Dalam artian anda mempunyai simpanan energy, yang nanti akan dibayarkan kepada anda pada saat saat yang tepat dan dibutuhkan.

Karena sifat alam ini adalah Canthih adalah selalu menuju keseimbangan. Energy ini disebut energy Sentripugal atau energy positif. Karena dalam kebaikan vektor resultante energy itu menuju keluar diri. Pelayanan dengan kasih, persembahan dan ketulusan adalah kebaikan dengan energy positif menuju keluar diri. Pada saat kematian simpanan energy ini akan membuat anda mampu terbang dengan kecepatan mengagumkan menuju planet planet murni yang lebih tinggi..

Pada saat hidup bisa saja anda berkelit atas kebohongan dan kejahatan bagai ikan yang berenang di sungai, tapi saat kematian anda akan hanyut bagai selembar daun kering. Saat inilah momentum Karma akan bekerja.

Sedangkan pada kejahatan maka vektor resultante energy itu menuju kedalam diri, untuk mnguntungkan diri sendiri atau kelompok. Energy ini disebut energy negatif, atau energy Sentrifetal. Untuk kejahatan alam akan mencatat sebagai energy dengan tanda Minus (-), dalam arti anda berhutang energy terhadap alam.

Pada suatu saat alam akan memintanya lagi untuk dan demi keseimbangan dan kedamian alam itu sendiri atau Canthih. Jadi pada saat kematian maka kita akan mengalami ” low bat ” sehingga can not fly and polling down in the bad whorld. Kita tak bisa terbang ke planet planet murni pada dimensi dimensi yang lebih tinggi dimana para mahluk mahluk mulia yang sempurna dengan pengetahuan sempurna dan kebahagiaan tertinggi berada disana.

Dimensi alam ini tak terhingga untuk dijelajah dan dipenuhi oleh mahluk berbagai tingkatan kemuliaan dan kebahagiaan. Jangan hanya terpaku di Bumi ini yang sesempit debu di alam semesta. Jangan picik. Jangan stupid.

Maka Hindhu selalu menganjurkan berbuat Yadnya. Ada Panca Yadnya yg harus dilakukan dalam hidup, tujuannya adalah untuk menabung energy di alam semesta agar nanti kita tidak Low Bat saat kematian menjemput.

Lahir sebagai binatang atau lumut bukanlah sesuatu yang mustahil. Hukum Karma berlaku untuk siapapun tak pandang bulu. Tidak ada siapapun yang mampu menolong diri kita kecuali diri kita sendiri. Orang orang yang selama hidup sebagai keluarga kita, akan berpisah dan mungkin tak akan pernah bertemu lagi dalam etape selanjutnya. Karena mereka akan pergi dalam Reinkaranasi selanjutnya.

Hanya Yadnya suci itulah yang merupakan simpanan energy yang akan membawa kita pada kelahiran kelahiran yang lebih tinggi. Yadnya bukanlah selalu dalam bentuk banten dan doa, tapi perbuatan nyata dan kasih serta pengorbanan yang dilakukan baik terhadap alam ( Dewa Yadnya), Masyarakat ( Manusia Yadnya), keluarga ( Pitra Yadnya), binatang ( Butha Yadnya) dan para Guru yang telah memberikan pencerahan hidup ( Rhsi Yadnya )

Meditasi dan Yoga telah dikenal dalam Hindhu sudah sejak lama sekali, sebagai suatu tehnik Shut Down. Karena alam ini adalah komputer raksasa, maka meditasi bertujuan untuk mencelat keluar dari layar monitor dan bersatu dengan sang pemain sejati yang duduk di depan meja komputer yaitu Atman. Yoga pada tingkat Samadi atau meditasi pada tingkat Jana adalah mereka yang sudah sampai pada pengetahuan sejati tentang hidup dan kehidupan ini. Mereka tahu rahasia alam ini karena sudah bersatu dengan Dia Sang Pengendali yakni Brahman.

PIKIRAN SELALU MEMBEDAKAN


Pikiran jika diaktifkan akan selalu membeda bedakan antara kaya dan miskin, rupawan dan jelek, baik dan buruk, tinggi dan rendah. Pikiran sangat pandai dalam melakukan diskripsi semacam ini. Hasil akhirnya adalah bermacam macam menu yang antara lain terdiri dari kesombongan , keangkuhan, rendah diri, berkecil hati, kecewa, iri, dendam dan lai lain. Jika anda mengaktifkan kemampuan membeda bedakan dari pikiran maka anda tinggal memilih salah satu dari menu akhir tersebut.

Dalam komunitas orang orang yang selalu mengandalkan pikirannya, apa yang disebut masyarakat intelek atau masyarakat kampus saat ini, jangan kira mereka dalam suasana Chantih yang damai dan tenang. Mereka seperti api dalam sekam. Mereka bersaing dalam hati dengan sesamanya, saling ingin melebihi, saling ingin menang saling ingin lebih pintar, mereka selalu ingin berdebat. Mereka berdansa diatas lantai kegelisahan. Yang jelas para binaragawan pikiran ini selalu gatal ingin saling menjotos dengan sesamanya. Mereka menderita dalam berbagai tingkat kesarjanaan. Menderita pada tingkat S1, menderita pada tingkat S2, S3 dan seterusnya.

. Mereka berada dalam suasana kompetitif yang konyol. Mereka terjebak dalam gua sempit yang menyesatkan. Mereka seperti katak dalam tempurung. Mereka tak mampu meraba kedamaian yang akan menjadi tempat tujuan akhir siklus Reinkarnasi. Mereka sia sia. Hanyut dalam peradaban.

Di Denpasar ada sebuah Banjar yang terdiri dari kelompok orang orang yang disebut intelek, ternyata ada yang ngodalin pagi ada yang ngodalin sore di pura. Ternyata mereka blok blokan. Karena mereka selalu merasa lebih pintar dari yang lain, mereka saling tak mau kalah. Karena mereka tidak tahu dan buta sama sekali tentang kecerdasan hati, kecerdasan yang membawa kebesaran jiwa dan hati, kecerdasan yang tenang damai dan sangat berani menerima apa adanya sehingga menghasilkan kebijaksanaan. Sedangkan pikiran cendrung cengeng, cerewet, pengecut, ingin menang sendiri dan rapuh ( vulnerable).

Tuesday, December 13, 2011

PIKIRAN ADALAH SENJATA


Jika binatang membela diri atau mempertahankan diri dan komunitasnya dengan fisik, kuku tajam, taring dan sebagainya, maka manusia mempertahankan diri dengan pikirannya. Bagi manusia pikiran adalah senjata untuk mempertahankan hidup diatas planet ini. Karena memiliki kemampuan berpikir yang lebih kompleklah manusia survive diatas mahluk mahluk lainnya di atas permukaan Bumi ini.

Jadi pikiran adalah The Weapon. Oleh karena itulah pikiran adalah senjata tajam yang bisa melukai diri sendiri ,orang lain atau lingkungan. Hindhu mengajarkan berhati hatilah dengan pikiran. Selalu selaraskanlah pikiran kata kata dan perbuatan pada suatu garis linier. Jika ada penyimpangan atau diversi/ distorsi antara pikiran kata kata dan perbuatan itu suatu pertanda kesalahan mengelola diri , atau bahkan cendrung mengarah pada Crime..

Manuver ini disebut Tri Kaya Parisudha. Kedamaian akan dapat diraih lewat pelaksanaan yang nyata dan konkrit terhadap Tri Kaya Parisudha. Tri Kaya Parisudhalah merupakan cikal bakal tercapainya penerapan kehidupan masyarakat Tri Hita Karana. Dengan kata lain untuk terlaksanannya Tri Hita Karana maka laksanakan dulu Tri Kaya Parisudha dengan benar. Dalam masyarakat modern dan maju secara tak langsung mereka melaksanakan Tri Kaya Parisudha yang dituntun dengan mematuhi aturan aturan yang berlaku. Sabar untuk antre yang panjang, berani mengatakan tidak terhadap hal hal yg dia tak suka. Berlaku jujur dalam tugas dan pekerjaan. Itu adalah bentuk pelaksanaan Tri Kaya parisudha. Maka akan tercipta masyarakat Tri Hita Karana. Sesuai dengan namanya Tri artinya tiga. Hita artinya kebahagiaan, dan karana artinya Penyebab. Jadi ada tiga penyebab utama menuju jalan kebahagiaan. Yaitu Prahyangan adalah tautan yang harmonis dengan kesadaran murni (Tuhan), Pawongan tautan yang selaras seimbang dan harmonis antara sesama umat manusia, dan Palemahan adalah tautan yang harmonis dengan lingkungan alam Semua itu cerminan dari Canthih

Pikiran mempunyai sifat sifat defensip dengan selalu membangun rasa takut dan cemas. Rasa takut dan cemas inilah salah satu pemicu eksistensi kebablasan dari peradaban manusia. Rasa takut akan membuat rasa bersaing, rasa curiga dan rasa marah.. Rasa takut dan cemas juga yang membangun suatu budaya apa yang disebut sebagai kemajuan tehnology. Ekploitasi besar besaran terhadap pikiran untuk menutupi rasa cemas dan takut menyebabkan manusia membangun benteng baja dengan lingkungannya, juga antara sesama agar perasaan aman dapat di obati.

Ekploitasi terhadap pikiranlah yang melahirkan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan adalah bagai pisau bermata 2 , bisa di gunakan untuk hal bermanfaat bisa juga untuk hal yang membahayakan.( Rhwa Bineda).

Oleh karena itu profesionalisme harus dibatasi oleh rambu rambu aturan profesionalisme atau hukum. Kalau tidak akan berlaku hukum ”yang bodoh bisa dibodohi”. Profesionalism is Crime. Jika ilmu pengetahuan dipergunakan salah atau berada pada tangan orang yang salah sangatlah berbahaya. Harus ada keseimbangan antara hati dan pikiran, sehingga tercipta Chantih.

Pikiran dalam hal tertentu bertentangan dengan hati. Misalnya ketika seorang pedagang nasi melihat ayam , maka dia berpikir ayam itu baik untuk dipotong lalu dagingnya dimasak untuk dijual. Tapi seorang penyayang binatang lebih cendrung memelihara ayam itu, lain lagi seorang dokter hewan memikirkan jangan jangan ayam itu membawa virus flu burung. Seorang bebotoh atau penjudi sabungan ayam melihat ayam itu baik untuk di adu. Tapi kalau melihat dengan hati maka ayam itu juga mahluk seperti kita, lebih baik jangan terlalu di ekploitasi, sayangi dia dan mamfaatkan hanya bila sangat perlu saja.

Kelas kelas Baratlah yang mengajarkan ekploitasi terhadap pikiran, anak anak dari kecil diajarkan berfikir dan mengasah pikirannya. Mereka sebut kecerdasan.padahal mereka sedang mengasah senjata. Mereka percaya bahwa pikiran berada dalam otak. Mereka tidak mengenal kecerdasan hati yang jauh lebih cerdas dari pikiran , mereka tidak mengerti hukum keseimbangan yang merupakan hukum fundamental dari hukum semesta yaitu Chantih.

Pada saat Candi Borrobudur di buat th 825 orang orang Barat baru bisa membuat tungku. Pada saat itu orang Indonesia telah tahu tehnik membersihkan hati dan pikiran ( Meditasi & Yoga) yang merupakan sumber kebahagiaan ( Chantih). Sedangkan saat itu orang Barat baru belajar membersihkan gigi. Sungguh kenapa sekarang kita mengalami degradasi dalam segala kecerdasan ?

Bangunlah kecerdasan hati sebanyak banyaknya., dan gunakanlah kecerdasan pikiran hanya bila perlu saja, agar tercipta kehidupan Chantih dan masyaralat chantih. Pengetahuan yang di dapat dari pikiran tidak bersifat absolut dan universal, pengetahuan itu bersifat nisbi dan sementara. Karena besok besok pasti ada yang menemukan hal baru yang lebih baik, dan begitulah seterusnya yang lama di buang dan muncullah yang baru. Terus akan begitu tidak tahu sampai dimana ujungnya.

Menurut Budha ujung ujung dari semua itu adalah Dukka, adalah ketidak puasan. Pikiran tidak pernah mengenal kecukupan hati. Tidak pernah mengenal kedamaian. Dan tidak pernah mengenal kebahagiaan. Hatilah yang mengenal semua itu.

Bahkan para ahli atom abad ini di pusat atom Berkley telah menemukan kesalahan kesalahan theory relativitas Einsteins dalam buku ”The Einsteins Mistakes”.padahal sebelumnya Einstein dianggap sebuah kebenaran, seorang Bhagawan of Science. Sungguh alam ini tak terbatas untuk dijelajah. Alam ini maha rahasia( Achintya). Alam ini sangat elastis, mau mau saja. Tergantung kaca mata apa yang anda pakai. Jika anda menggunakan kaca mata merah maka alam ini akan tampak merah. Jika anda mengunakan kaca mata biru maka akan tampak biru. Jika kita melihat rumput berwarna hijau apakah sapi, kambing, anjing atau burung juga melihat hijau ? Bagaiman mereka yang butha warna ? Dapatkah kita melihat sinar x ?, sedangkan sinar itu ada..

Alam ini sejatinya tak terpikirkan, dengan kata lain percuma anda mengekploitasi alam ini dengan pikiran. Orang Bali menyebut : ”Anak Mula Keto ” Artinya kalau ingin merasakan hidup damai, hidup Chantih, janganlah terlalu memperdebatkan hal hal sepele dengan pikiran. ” Sing ade ape de” kata Orang Bali. Jalanilah hidup dengan damai di hati, damai di dunia dan setelah itu pastilah kedamaian yang mengantar kita dalam perjalanan Life After Life Journey.

Sungguh Prinsip Anak Mula Keto membutuhkan kecerdasan hati, kesadaran tingkat tinggi, keberanian seteguh baja dan kebeningan pikiran tanpa cela. Hanya mereka yang dalam suasana Chantih yang mampu memahami Prinsip Anak Mule keto. Ikhlas dan benar benar ikhlas dan bahagia. Anak Mula Keto.

Lihatlah perkembangan telekomunikasi saat ini sungguh sangat cepat berubah ubah. Yang jelas ujung ujungnya pengetahuan pikiran hanya akan menyisakan hasil akhir berupa kegelisahan , kecemasan dan ketakutan. Berbeda halnya dengan kecerdasan hati akan memberikan suatu yang absolut, universal, keseimbangan, kedamaian dan keindahan hidup.

Sebaiknya anak anak mulai dari kecil di ajarkan mengenal kecerdasan hati, yang akan mengantar dia kepada kebahagiaan, bukan kecerdasan pikiran melulu yang hasilnya takut, cemas dan gelisah.

Tuesday, December 6, 2011

REALITAS PIKIRAN



Lapisan pikiran berada pada dimensi yang lain.

Bhagawan Sri Satya Sai Baba mengatakan bahwa tubuh kita bukanlah hanya tubuh fisik, akan tetapi terdiri dari beberapa lapisan tubuh antara lain lapisan tubuh fisik ( fisical sheat), lapisan tubuh Prana ( Pranic sheat), lapisan tubuh emosi ( Emotional sheat), lapisan tubuh pikiran ( Intelectual sheat), lapisan tubuh kebahagiaan ( Bliss sheat), lapisan tubuh kesadaran( Conciusness sheat).

Para ahli atom mengatakan bahwa White Matter atau Fisical Matter ini hanyalah 4 % dari total energy alam semesta. Jadi berarti pula tubuh fisik kita hanyalah 4% dari total life energy kita. Jika kita mati kita masih memiliki 96 % energy murni ( Pure energy) yang akan terbang ke alam alam lainnya atau kembali ke planet fisik seperti Bumi untuk mencari 4% energy lagi agar bisa mewujud ( Reinkarnasi).

Lapisan pikiran hanyalah satu dari lapisan tubuh kita. Dimanakah letaknya lapisan pikiran ? Di otak ?. Tentulah tidak. Seluruh sel sel tubuh kita akan diganti dalam 5 tahun. Termasuk sel sel otak. Lalu kenapa kita masih bisa ingat dengan jelas peristiwa peristiwa 10 tahun yang lampau ?

Dalam tehnik meditasi dan Yoga ada tehnik Regresi dimana seseorang bisa kembali kemasa waktu sebelumnya dan menikmati pengalaman nyata sebelumnya, seperti kembali pada kehidupan masa sebelumnya. Misalnya mendengar suara burung saat usia 5 tahun atau merasakan air susu ibu saat bayi. Semua sensasi itu seperti nyata. Bahkan bisa kembali kepada saat dalam kandungan atau bahkan pada pengalaman hidup sebelumnya.
Budha bahkan bisa menikmati sensasi 90 Kalpha sebelumnya. Satu kalpha sama dengan satu periode Big Bang.

Pikiran bukanlah materi fisik. Dia ada pada dimensi lain, bukan dimensi fisik yang terdiri dari 4 dimensi ( 4D).

Ada mahluk bersel satu yang disebut Ammoeba, dia bisa berfikir sekalipun tidak mempunyai otak. Begitu pula ada mahluk yang lebih kecil lagi yang disebut Virus, hanya terdiri dari beberapa molekul saja. Namanya Virus DNA dan juga Virus RNA. Dia tak mempunyai otak tapi dapat berfikir , dapat bergerak menghindari bahaya, menyerang, membajak DNA dan mengcopy dirinya dan sebagainya.

Walaupun eksistensi mahluk tak sama sedangkan pikiran semua mahluk mempunyai kapasitas yang sama, perbedaannya karena muatan program pada apa yang disebut otak atau DNA tidak sama pada semua mahluk.

Pernah dilaporkan ada seorang mahasiswa yang sangat cerdas dan selalu lulus cum laude tetapi ketika dirontgen kepalanya karena sakit ternyata hanya berisi air saja ( tanpa otak/ hydrancephali ). Contoh lainnya computer bisa diprogram untuk bermain catur seolah olah mempunyai pikiran padahal tak memiliki otak. Computrer ini namanya Deep Blue yang dapat mengalahkan Garry Kasparov seorang super master dunia yang berasal dari Sovyet.

Kenapa orang orang bangga dan berlomba untuk membangkitkan kecerdasan pikiran padahal sebuah komputerpun dapat melakukannya?. Kenapa tidak membangkitkan kecerdasan hati dimana komputer sama sekali tak dapat melakukannya ? Computer tak mengenal bahagia. Hanya manusia yang mengenal bahagia. Sekuat kuatnya kita membangkitkan kecerdasan pikiran maka ujung ujungnya adalah ketidak puasan, ujung ujungnya adalah Dukka. Sedangkan kecerdasan hati ujung ujungnya adalah kebahagiaan.

Pikiran itu tak terbatas oleh ruang waktu. Buktinya dalam kamar sempitpun kita bisa membayangkan lautan luas. Juga kita bisa mengingat dan membayangkan peristiwa peristiwa yang sudah lama berlalu seperti kenangan kenangan masa anak anak bersama teman teman kita. Jadi tak ada ruang dan waktu yang mampu membatasi pikiran, karena pikiran bukan materi 4 dimensi. Pikiran berada pada dimensi yang lain.

PIKIRAN PEMINPIN INDRA INDRA


Pancaindra baru bisa mewujudkan realitas setelah mendapat persetujuan dari pikiran. Jadi yang terpenting adalah bahwa semua rangsangan pancaindra itu harus mendapat persetujuan dari pikiran. Boleh ada obyek, ada mata yang sehat, ada otak yang sehat tapi kalau tak ada persetujuan dengan pikiran maka obyek itu tak akan pernah ada dalam realitas anda.. Orang yang melamun yang pikirannya jauh, mungkin tak melihat kalau ada orang lalu lalang di depannya atau tak mendengar kalau namanya dipanggil.

Persetujuan (approved) ini oleh Budha disebut Chanda. Budha mengatakan dalam pancaindra adal 5 persetujuan antara pikiran dan pancaindra yang disebut Kama Chanda. Ketika pikiran setuju untuk melihat yang sensual maka proses penglihatan itu dapat berlangsung dan dapat membangkitkan rangsangan. Begitu juga kalau pikiran setuju kepada indra untuk menikmati alkohol maka rasa alkohol itu akan terasa mengigit. Jadi pikiranlah kunci dari semua itu. Semua alat alat indra dari otak sampai efektornya tak akan berfungsi kalau tak mendapat persetujuan dari pikiran. Siapakah pikiran ? Sang pencipta realita ?

Dalam pendidikan Yoga dan Meditasi maka pikiranlah dilatih untuk memberi persetujuan kepada pancaindra secara selektif dan efficient dan menghindari sensualitas dunia eksternal yang dapat menghanyutkan kesadaran kedalam arus semu kehidupan. Bukan sebaliknya dengan menutup atau menghilangkan obyeknya. Karena pikiran dapat pula menikmati sensualitas tanpa obyek, apa yang disebut menghayal. Pikiran dapat menghadirkan obyek obyek ciptaannya sendiri. Jadi pikiranlah kuncinya pancaindra. Karena itu pikiranlah yang dikendalikan, bukan obyek eksternalnya. Dunia ini adalah bentukan pikiran dan dia senang berselancar di dalamnya.

Pikiran dapat diprogram, diarahkan dipandu dan dikendalikan. Oleh karena itu untuk menghindari orang menjadi mabuk akan kenikmatan dunia maka pikirannya yang dikendalikan. Orang yang dapat mengendalikan pikiran adalah orang pada tingkat bijak, tetapi bagi para pemula atau para remaja untuk menghindari mabuk dunia maka obyek rangsangan harus dihindarkan dulu sebelum pikirannya menjadi kuat dan bijak. Dia harus terlebih dulu di jauhkan dari sensualitas dunia. Makanya wihara wihara, padepokan padepokan yoga dan meditasi memilih tempat di hutan atau di gunung.

Memuja kenikmatan dan mengumbar napsu adalah bentuk lain dari memuja berhala, karena semua rangsangan itu adalah semu, hanya permainan molekul molekul kimia. Molekul molekul kimia yang tercipta dari rangsangan itu yang menyebabkan kita tak sadar. Rasa manis, rasa pahit, enak dan sebagainya hanyalah permainan molekul molekul kimia. Pikiran yang bersih tidak mungkin suka mabuk mabukan atau pesta sek dan narkoba. Sadarlah itu hanya permainan molekul molekul kimia. Oleh karena itu setiap agama mengajarkan pengendalian pikiran atau pengendalian diri terhadap suatu permainan yang menyesatkan dan semu ini.

Yesus Kristus dalam penyiksaan menuju tiang Salib, mungkin sudah sangat mengetahui permainan molekul molekul ini. Mungkin saja Sang Yesus tidak merasakan apa apa, bukan seperti rasa sakit yang kita bayangkan, karena Beliau sudah sangat piawai mengendalikan pikiranNYA.

Lalu apakah realita ini sebenarnya?. Kita menggantungkan nasib pada alat pengindra dan otak ? Apakah itu sahih ?

Thursday, December 1, 2011

PANCA INDRA JENDELA DUNIA


Ketika air gula diteteskan pada ujung lidah dengan segera otak dapat mengenalinya sebagai rasa manis. Dan memberikan jawaban itu adalah air gula. Tapi coba teteskan air gula pada telapak tangan maka tak ada jawaban karena ditelapak tangan tak ada pintu pintu reseptor spesifik terhadap rasa manis.

Begitu juga makanan yang enak di lidah, tapi ketika sudah masuk ke lambung tak terasa apa apa, padahal enaknya tetap. Cahaya yang dipantulkan benda benda ke retina mata juga akan menciptakan molekul molekul kimia tertentu pada pintu pintu reseptor pada retina. Otak memberikan interpretasi tentang keadaan benda tersebut, bentuk, warna, jarak dan lain lain. Hasil dari interpretasi ini berbeda beda (tidak persis sama) walaupun dengan obyek benda yang sama pada waktu bersamaan. Bahkan interpretasi bisa berbeda pada orang yang sama dengan obyek yang sama pada saat yang berbeda.

Panca indralah yang memperkenalkan dunia luar pada otak, dan otak akan membentuk persepsi persepsi (model) tersendiri tentang dunia. Rangkaian persepsi persepsi ini akan merajut sebuah difinisi tentang dunia, sesuai dengan intensitas dan sifat rangsangan yang diterima lewat pancaindranya. Oleh karena itu orang bijak mengatakan : ”SEBERAPA BANYAK MANUSIA SEBEGITULAH BANYAK DUNIA ”.

Ketika ada pesta dan diatas meja ada berbagai jenis dan menu makanan, tetapi orang orang akan mengambil jenis makanan atau buah yang berbeda beda. Itu menandakan memory rasa yang ada di pikirannya berbeda beda. Ada yang suka apel ada yang suka semangka dan sebagainya. Itulah perbedaan persepsi terhadap dunia. Bahkan apel yang sama akan memberikan persepsi rasa yang berbeda pada orang berbeda.

Pertanyaannya adalah : Apakah ini juga program DNA ? Apakah kita sebenarnya tak memiliki kehendak bebas ? Apakah alam sebenarnya kumpulan bertrilliun trilliun hukum alam yang sedang berlaku pada dirinya dengan sendirinya pula ? Tanpa campur tangan siapapun.

Saya tidak ingin mengatakan jika seorang pedagang sate walaupun dia mengutuki Tuhan 100 kali dalam sehari, tapi selama dia selalu melayani pelanggan dengan baik pastilah dia akan beruntung.

Ketika Hindhu mengatakan Tuhan adalah Brahman. Brahman bersifat Wyapi Wyapaka Nirwikara, yaitu selalu ada dan ada dimana mana. Maka alam inilah sejatinya yang kita maksudkan Tuhan. Karena kita tak akan pernah berhasil memecahkan hukum hukumnya.

Hukum fisika quantum bukanklah akhir fisika. Dimasa depan pastilah ada sebuah DNA sangat cerdas yang menemukan hukum fisika baru yang mencengangkan dan membelah tabir rahasia alam selanjutnya.

Dan hal yang paling mencengangkan adalah semua penemuan itu akan terasa cocok dan bisa diterima oleh alam. Tampaknya alam ini sangat elastis bagai karet. Mau mau saja.

Pandangan orang buta dan orang tuli atau sekalian buta tuli terhadap dunia berdiri sendiri sendiri. Mereka punya dunianya sendiri sendiri. Dengan kata lain dunia ini menjadi nyata karena adanya pancaindra. Coba kalau kita tidur maka dunia ini lenyap. Apakah sebenarnya memang lenyap? Dan begitu kita bangun dunia ini ada lagi ? Secara spontan dunia ini dibentuk lagi sesuai memory dan persepsi kita ?. Jangan jangan memang seperti ini.

Begitulah relatifnya dunia, begitu nisbinya dunia. Pada saat tidur nyenyak semua kekayaan anda, gelar pangkat, jabatan anda dan bahkan semua sanak saudara anda lenyap. Apakah realitas itu benar benar ada ? Atau ada karena otak membuat model realita dari menyusun data data yang dikirim oleh pancaindra kepadanya ? Bagaimana bentuk model realita pada kucing, kambing, ikan, tumbuhan, bakteri dan virus. ? Apakah hampir sama atau berbeda sama sekali ?

BALI PULAU BANTEN


Dalam perjalanannya spiritualnya Hindhu mengenal 380 000 000 Dewa. Hindhu meyakini alam makrokosmos identik dengan alam mikrokosmos. Atman identik dengan Brahman. Diri identik dengan alam semesta. Sifat dasar alam dan sifat dasar diri adalah sama yaitu Satwam, Sivam, Sundaram.

Satwam artinya kebenaran, Sivam artinya kebahagiaan dan Sundaram artinya keindahan. Sifat alam ini identik dengan sifat dasar dalam diri. Untuk memudahkan pemahaman ini Hindhu menciptakan Dewa Dewa sebagai wakil wakil personifikasi alam. Dewa matahari, Dewa Laut, Dewa angin, dan Dewa Dewa lainnya. Semua itu adalah wujud personifikasi wakil wakil alam. Semuanya adalah model. Semuanya ada dalam diri kita. Untuk itulah para tetua Bali ( meminjam istilah Bapak Gede Prama, seorang guru spiritual Bali masa kini yang sederhana dan bening), tetua Bali membuat metode untuk lebih membuat hal ini semakin konkrit dengan jalan membuat Banten.

Metode pendekatan dengan sifat sifat murni alam yaitu Satyam, Sivam Sundaram adalah banten. Banten adalah satu satunya hasil kreativitas tetua Hindu Bali, dan tak ada lainnya di dunia. Oleh karena itu pulau mungil itu dinamai Bali. Bali artinya Banten. Artinya Yadnya. Artinya persembahan. Inti Persembahan adalah penyatuan diri dengan alam. Bersatunya di dalam dan di luar. Leburnya hidup dan kematian. Leburnya Ada dan tiada. Leburnya waktu. Yang tinggal kedamaian. Yang tinggal kebahagiaan.

Banten pada awalnya adalah model model replika mini dari alam yang memiliki bentuk bentuk dan komposisi spesifik. Tergantung tujuannya. Kepada alam mana ?. Kepada Dewa apa ?. Pemujaan, kasih dan pendekatan terhadap alam adalah sebagai inisiasi untuk membangkitkan pendekatan kedalam diri. Jika sifat sifat dasar alam telah kita jiwai maka kita akan menemukan sifat sifat dasar dalam diri yaitu kebenaran, keindahan dan kebahagiaan.

Banten tujuan filosofisnya adalah untuk meraih, meraup, menghirup dan menjiwai sifat sifat dasar alam yaitu kebenaran, keindahan dan kebahagiaan. Agar kita dapat membangkitkanya dalam diri sehingga kehidupan ini berarti dan bermakna. Tetua Bali tampaknya sangat tepat dalam hal ini . Carilah kebahagiaan dalam hidup karena itulah hidup yang bermakna. Tanpa kebahagiaan hidup tak ada maknanya walaupaun bergelimang kemewahan dan kekuasaan.

Hindhu mengajarkan sifat kebahagiaan itu sudah ada di alam dan dalam diri yaitu Sivam. Tinggal menyelaraskan saja. Tinggal membuatkan jembatan. Tinggal menyambungkan kabelnya saja. Tinggal menekan tombol saklarnya. Yaitu Banten.

Banten pada awal mulanya pastilah sangat meditatif, murni, indah, suci dan sederhana. Penuh makna. Penuh kebahagiaan. Penuh bhakti. Sangat spirit dan indah. Tapi entah kenapa dalam perjalanannya sejarahnya Banten menjadi terlibat dalam berbagai upakara beraroma duniawi.

Sepertinya banten dalam sejarah perjalanannya mengalami banyak sekali revisi revisi. Pengaruh dan intervensi kelas kelas strata sosial masyarakat, terutama kelompok penguasa. Sehingga selama berabad abad perjalanan ritualnya secara tanpa disadari banten rupanya mengadopsi banyak muatan. Sehingga sepertinya Banten memasukkan Dhresta pada kurukulumnya. Sehingga ada Banten Utama, Madya dan Nista. Ini adalah urusan duniawi. Banten adalah urusan spirit yang sangat meditatif, sehingga yang ada hanyalah Banten utama. Sederhana, suci, bhakti, spirit dan meditatif.

Upakara dan upacara saat ini menjadi hiruk pikuk pesta pesta. Nilai Satyam, Sivam dan Sundaram sepertinya tenggelam, bahkan terkubur dalam dalam. Biaya Upacara dan Upakara begitu membengkak dan memberatkan pengikutnya. Apalagi dalam situsai beragamnya kebutuhan hidup saat ini, banten seakan menjadi beban. Tujuannya untuk meringankan tapi hasilnya memberatkan. Tidak jarang diikuti oleh pesta pesta dan pembunuhan hewah hewan. Bak perayaan menang perang. Sehingga hakekat Banten bukan lagi meringankan dan meriangkan hati, apalagi membebaskan pikiran

Banten bukan pameran status sosial, bukan parade kasta kasta. Banten adalah media penyatuan diri dengan keberadaan ( Sang Hyang Embang ). Banten adalah media persembahan. Banten adalah katalisator Satyam , Sivam, Sundaram antara di dalam diri dan di luar.

Hindhu adalah agama spiritual yang membumi, bukan agama bumi yang mengangkasa. Dia berjalan pada rel kebenaran realitas (Satyam), keindahan (Sundaram) dan kebahagiaan ( Siwam).






BALI

jasa arsitektur rumah dan desain villa, klik disini...