jasa arsitektur rumah dan desain villa, klik disini...

Showing posts with label Spiritual. Show all posts
Showing posts with label Spiritual. Show all posts

Monday, September 29, 2014

Arti Sebuah Nama



Sesungguhnya semuanya segala sesuatu di alam dunia ini tak bernama, manusialah yang memberi nama. Oleh karena itu semua nama ini adalah artificial. Dan semua itu terjadi setelah manusia mengenal bahasa. Untuk memudahkan komunikasi mereka membuat nama nama atas segala sesuatu yang merupakan persetujuan lokal atau regional maupun global.

Anehnya mereka semua percaya bahwa nama itu bener bener seakan ada dan nyata, sehingga sering kita jumpai perselisihan, pertengkaran dan bahkan peperangan atas nama sebuah nama. Nama hanyalah sederet huruf yang abstract, yang katanya mewakili benda. Jadi seakan nama itu adalah roh dari sebuah benda.

Saya punya seekor anjing jenis Kintamani warna hitam. Ketika saya dapat anjing itu dari seorang teman dia masih anjing bayi usia 1 bulan. Dia belum bernama. Tapi kemudian saya beri dia nama ”Nero”. Disamping memang anjing itu pintar, saya melihat setiap saya sebut Nero, dia segera datang dan melompat lompat. Saya berfikir bahwa anjing ini bener bener merasa dirinya ada sebagai Nero, dengan kata lain bahwa Nero itu bener bener eksis di alam semesta. Padahal semua itu artificial. Saya sendiri yang menginstal nama Nero kepada si anjing itu. Seandainya saya menginstal nama lain, maka ” Nero anjing ” lenyap di alam semesta.

Begitu juga nama seseorang, termasuk nama kita sendiri masing-masing. Bahwa nama tersebut yang diinstalkan kepada kita oleh orang tua kita adalah murni artificial. Tapi ketika ada seseorang menghina atau menghujat nama kita, kenapa kita merasa sakit ?. padahal seharusnya kita tenang tenang saja. Masa bodoh , mereka kan hanya mencaci atau menghujat sederet huruf huruf. Kalau kita sakit hati karena nama kita di hujat, itu adalah kebodohan yang lucu.

Bukan hanya itu, bahkan orang bertengkar hebat atau berperang karena nama kelompoknya dihujat atau nama negara atau nama agamanya di hujat. Mungkin ada sekitar 20 persen peperangan di dunia ini hanya soal memperebutkan nama. Sesuatu yang cukup lucu.

Nama adalah simbul simbul abstrak yang terus diinstal berulang ulang dari sejak kita bayi sampai tua, yang membuat otak kita yakin bahwa simbul itu adalah diri kita sendiri. Simbul itu benar benar seakan nyata dan eksis di alam semesta. Sehingga ketika kita memaki nama seseorang maka beliau itu bisa meninju kita. Ha ha .....

Dalam kesadaran yang lebih dalam , ketika kita menyelam lebih dalam ke dimensi alam sebelum kita ada, maka semua nama itu lenyap. Nama itu tercipta hanya di alam pikiran. Nama adalah bentuk keterikatan kita yang pertama dalam pembentukan ego. Dalam Hindhu dikatakan ketika ” Purusha” roh suci dari Atman ( percikan Brahman/Tuhan) yang merupakan non fisical material  bertemu dengan ”Prakrithi” yang merupakan fisical material, maka terciptalah sebuah keterikan ( Bonding ) yang disebut ”Guna”.
Guna ini terdiri dari 3 keterikatan yaitu ”Satwam, Rajah, Tamah”.  Nah... ketiga keterikatan inilah yang  membentuk ”Ego” ( sebuah insight yang mengatakan bahwa kamu ada sebagai sebuah diri ” you are exist ” ).

Kemudian sang Ego ini akan membentuk pikiran yang dapat memerintah Pancaindra. Kemudian dari segala data data input yang masuk lewat Pancaindra, pikiran akan merajutnya menjadi sebuah bentukan atau model  yang grand designnya sudah di order oleh sang Ego. Jadi inilah yang disebut faham atau respon seseorang terhadap realita. Sehingga setiap orang memunculkan penotype yang tak bisa persis sama. Setiap orang adalah gambaran dari dirinya, gambaran dari eksistensi ”Guna” , eksistensi dari keterikatan antara ”Purusha dan Prakrithi” . Bagaimanapun gambaran dan tanggapan dia terhadap dunia dan kehidupan itulah gambaran seorang dia, cerminan eksistensi ”Guna”.

Jadi dunia dan kelahiran kita di fisikal material ini adalah pacuan lomba atau perhelatan dalam rangka membangun kesadaran untuk melepaskan keterikatan atau energy Guna itu. Agar kita tak lagi terbelesak kedalam kegelapan Prakrithi, berputar putar dalam siklus Samsara Punarbhawa yang tak ada ujungnya. Lalu di dunia kita akan bertengkar soal nama, mengejar nama, mempertahankan nama, mengejar kemasyuran nama. Kenapa kita seperti anak anak ? . Bermain di taman kanak kanak sampai semalam suntuk, lupa untuk pulang ke rumah ke abadian, lupa menemui  orang tua kita yang sejati yang maha penyayang. Kita semua adalah Purusha, roh suci Atman, sumber kabahagiaan, kekuasaan dan pengetahuan sejati tanpa batas dan abadi.  









Wednesday, July 31, 2013

Hidup tanpa inti diri



Suatu pagi langit kelabu. Matahari bersembunyi dengan rapi di balik  awan. Hujan di malam hari masih menyisakan gerimis kecil.  Tetesannya tampak berkilauan diterpa cahaya mentari yang  mencuri curi celah awan. Gerimis ini tampak bagaikan jarum  jarum langit yang menisiik ruang. Tuli memandang air hujan yang merendam akar akar rumput mungil.  Pikirannya melamun kemasa  kecilnya dulu.  Lalu ia bergegas mendekati Butha. Ia ingin bertanya tentang hidup.

Tuli :” Butha kali ini perasaanku merasa sendu, ketika mengingat masa kecilku yang sengsara. Ayah meninggal dan ibu kawin lagi. Aku di besarkan nenek.”  “ Aku ingin bertanya padamu, apakah hidup itu sebenarnya ?.” 

Butha menggeliat merapikan sarung yang membungkus dirinya sampai ke bahu.

Butha :” Tuli kau berasal dari sebuah  mahluk mini sebesar 20 mikron yang namanya spermatozoa. Yang kemudian menerobos masuk kedalam sebuah mahluk mini bulat sebesar 20 mikron juga yang namanya ovum. Setelah itu terbentuklah mahluk baru sebesar 34 mikron yang namanya zygot. Mahluk ini bertumbuh dalam ruang rahim ibumu selama 9 bulan 10 hari, kemudian lahirlah kamu, dengan jumlah sel sebanyak 3 trilliun.

Tuli :” Terussss ….... setelah itu ? “.

Butha :” Setelah itu kedua materi genetik yang namanya DNA, baik yang berasal dari ayahmu dan juga dari ibumu mulai bekerja pada dirimu “.

Tuli :” Seperti apa dia bekerja ….?”.

Butha :” Seperti dirimu sekarang “.

Tuli :” Maksudnya...?.”

Butha :”  Maksudnya  ya melanjutkan program program genetik yang sudah ada sejak zaman batu “.

Tuli : “  Apa itu …?”

Butha :” Survival “.

Tuli ;” Sampai kapan ?.”

Butha :” Sampai kamu dewasa kamu mempunyai 60-100 trilliun sel, Dan mulai usia 30 tahun sel sel ini mulai menua ( aging) dan  jumlah  sel yang  bunuh diri ( apopthosis ) lebih banyak dari yang  muncul ( proliferasi). Pada usia rata rata diatas 70 tahun   program genetik sel sel ini  berhenti. Dan kamu  disebut mati.”

Tuli :” Waaah ….... lalu aku kemana ?” 

Butha :” Memangnya kamu tahu, kamu dari mana sebelumnya ?”.

Tuli ;” Oh tentu tidak “.

Butha :” Ya segalanya  kembali ke alam”.

Tuli :” Ya aku bisa faham itu, Bahwa  tubuhku  akan hancur menjadi molekul molekul lagi atau atom atom mineral dan kembali ke alam. Atau mungkin di gunakan oleh alam untuk membentuk mahluk baru, entah binatang atau tumbuhan “. Tapi diriku kemana ?. Jawablah.....Oooo.. Butha yang kukagumi. Jangan berpantun”.

Butha :” Ha.... ha.... ha..... Inilah yang menyebabkan kamu bersedih dan menderita “.

Tuli:” Kenapa  memang ..?”

Butha : “ Karena kamu merasa ada. Dan bahkan tetap ada untuk selamanya sebagai dirimu yang sekarang. Kamu merasa dan yakin bahwa  segala aktivitas hidupmu dikendalikan oleh sesuatu yang kau sebut sebagai dirimu. Kau merasa keberadaanmu  nyata  sebagai sang pengendali. Terus terang Tuli !. Itu tidak ada.
 Maafkan aku”.

Tuli : “??? …. Memangnya siapakah pengendalinya ?

Butha :” Tidak ada. Aku tidak tahu....” Semua yang kau maksudkan itu hanyalah egomu, pikiranmu. Sesuatu ramuan dan reaksi berantai dari molekul zat zat kimia sangat halus , yang di bentuk oleh program DNA mu. Ada  ribuan jenis  zat kimia seperti ini  yang disebut nerokimia, Bahkan ada yang tak tertasah oleh hukum hukum kimia dan fisika saat ini, sehingga hanya sebagian kecil yang diketahui. “

Tuli :” Lalu bagaimana … harusnya aku see....karang ?”

Butha :” Berbahagialah......... “

Tuli:” Bagaiana caranya ?????.....”

Butha :” Berhenti memikirkan dirimu.”

Tuli :” Wah kamu benar benar gila... Butha. Bagimana aku bisa  seperti mayat. Tanpa pikiran dan keinginan”

Butha :” Ha ..Ha … seharusnya kamu berbahagia Tuli.  Alam  menciptakan dirinya sebagai seorang kamu, lalu memusnahkannya habis sampai ke akar akarnya. Kalau tidak, kamu bisa  bersedih jutaan abad melewati kelahiran  demi kelahiran, menyusuri peradaban demi peradaban.  Ketahuilah alam maha bijaksana. Kamu tetap ada sebagai alam. Dan akan dibentuk lagi dalam  perwujudan yang sangat berbeda dari sejkarang dalam segala galanya. Kendali itu bukan dirimu.  Kau tidak memiliki  inti diri  sebagi pengendali. Berbahagialah.....”

Tuli :” Gila......!!.  Tapi apakah ini menyebabkan orang kaya, orang miskin, orang sukses, orang gagal, orang berpangkat , orang buta hurup masih dirundung oleh kesusahan, penderitaan dan kecemasan  dengan kualitas dan kuantitas penderitaan yang  nota bene tidak berbeda bermakna ?”

Butha :” Persis !!. Mereka semua menderita. Karena merasa memiliki inti diri”.

Tuli duduk terbengong  menatap langit pagi yang kelabu. Secercah cahaya berusia sembilan menit dari matahari menabrak sudut matanya. Mungkin saja ditubuhnya telah tertancap partikel cahaya dari bintang bintang yang berusia jutaan tahun. Dia baru menyadari bahwa tubuhnya adalah sebuah deburan hebat yang tak pernah berhenti dari trilliunan molekul  yang silih berganti dengan alam.  Deburan ini melebihi tumpahan Niagara Fall  yang menumpahkan hampir 6000 liter air perdetik.

Tuli bangkit dan berjalan jalan diatas rumput basah, menendang nendangkan kakinya yang terasa agak kaku , menunduk dan mengangkat kepala berada dalam suasana perasaan antara galau dan setengah mengerti akan kata kata Butha. “ Hidup ini tanpa inti diri. Dan itulah yang membuat  kamu bahagia. “













Wednesday, April 11, 2012

PENCIPTAAN BERASAL DARI CINTA KASIH


Setiap mahluk adalah perwujudan cintakasih. Setiap mahluk adalah pancaran cintakasih, karena setiap mahluk diciptakan dengan cinta kasih, diciptakan oleh cintakasih. Cintakasih bekerja dibalik semua penciptaan.

Anda tak bisa bekerja kalau tak cinta pada pekerjaannya, apalagi menciptakan sesuatu. Pekerjaan memerlukan cintakasih terhadap pekerjaan itu sendiri. Baik di laboratorium, bengkel speda, kantor, rumah sakit, pabrik dan perusahan lainnya.

Seorang harus selalu mencintai dan menyayangi serta memikirkan pekerjaannnya, maka barulah ia mempunyai gagasan gagasan atau inovasi inovasi penciptaan.

Begitulah penciptaan segala sesuatu berdasarkan cintakasih. Tapi cintakasih yang satu ini bukan cintakasih biasa biasa. Akan tetapi cintakasih yang melampaui segala batas. Cintakasih yang tak terbatas. Seekor semut atau seekor burung hanya bisa tercipta dari cinta kasih yang tak terbatas. ( Subhahana ....) Mungkin cintakasih pula yang bekerja menggerakkan DNA dalam Krommosom sel sel tubuh kita ?

Mampukah manusia menciptakan sebuah molekul dari kecerdasan pikirannya ? Hanya cintakasih yang tak terbatas yang mampu mencipta. Jika manusia yang paling cintakasih mempunyai level 100 maka Sang Maha Pencipta mencapai level satu trilliun atau bahkan tak terhingga ( Allahu Akbar......). Menangislah anda jika merenungkan cintakasih Allah yang tak terbatas ini. Apa yang dipakai untuk membalas.....?

Jika seorang menyerahkan jiwa raganya kepada Tuhan itu belumlah apa apa. Tapi jika dia berlaku cintakasih terhadap semua mahluk dan semua manusia tanpa membedakan warna kulit, ras, agama, politik dan lain lain, maka itu barulah prestasi.

Cinta kasih adalah Yadnya tertinggi tapi sekaligus Yadnya tersulit ( Hindhu menyebut jalan ini adalah Karma Yoga). Jalan cintakasih adalah berdasar kerendahan hati dan keikhlasan. Tak gampang orang berprilaku rendah hati dan ikhlas.

Tercatat hanya Sang Buddha adalah mahluk cinta kasih. Sang Buddha adalah perwujudan cintakasih yang menyembul kedunia materi dengan cahayanya yang jernih bagai bulan purnama di malam hari. Karena sang Buddha dalam meditasinya telah mencapai tingkat mengalami cintakasih.

Tingkat pertama, adalah Nimmita yaitu melihat cahaya cahaya cintakasih yaitu cahaya cahaya Tuhan. Cahaya cahaya ini menimbulkan rasa bahagia diatas segala rasa bahagia, atau super bahagia. Rasa bahagia ini tak akan pernah dirasakan di dunia materi ( kehidupan dunia ).

Tingkat ke2 dan 3 adalah Jana I dan II. Ditingkat ini meditator akan merasa terseret kedalam kekosongan tak bertepi. Untuk masuk ketingkat ini tak mudah karena meditator harus sudah mampu menghapus identitas diri. Jadi sudah mampu menghilangkan faham tentang adanya diri. Pada tingkat ini meditator mengalami pelepasan dari segala keterikatan.

Pada tingkat selanjutnya yaitu Jana 3 dan 4, meditator kehilangan kontrol diri. Bergerak terus kedalam kedalaman kesunyian nan tak bertepi. Bahkan untuk berfikirpun tak mampu lagi, tak mampu merngingat apa apa. Dan bahkan keinginan untuk mulai berfikirpun tak mampu. Pada tingkat ini meditator mengalami bahwa ada kontrol diluar diri. Jadi penciptaan ini dilakukan oleh sesuatu kontrol yang ghaib yang tak bisa didiskripsikan dengan cara apapun.

Pada tahap terdalam adalah Nibbhana yang artinya pemadaman total. Tak ada apapun yang mampu exis disini. Pada tinggkat ini meditator mengalamai apa itu cintakasih yang menciptakan segala sesuatu.

Meditator yang mencapai tingkat ini mengerti apa itu cintakasih. Untuk dalam kehidupan sehari hari kalau ingin mendekatkan diri kepda Sang Pencipta tentu dengan bersikap dan berprilaku cintakasih terhadap mahlkuk ciptaanNYA dan segala sesuatu.

Pada tingkat tertentu dalam usia hidup anda , dalam kondisi perenungan dalam dan ketenangan bathin yang sunyi anda akan merasakan getaran halus penciptaan yang selalu bergema tak pernah henti. Itulah getaran cintakasih. Selamat mencoba

Wednesday, January 25, 2012

JIKA PALEMAHAN TERKOYAK MAKA PAWONGAN AKAN TERSAKITI DAN PRAHYANGAN AKAN MEMUDAR


Palemahan adalah alam ini. Alam tempat manusia hidup dan berkehidupan. Oleh karena itu haruslah ada hubungan yang harmonis, selaras dan seimbang antara manusia dengan alam. Keserakahan manusia dalam mengeksploitasi alam, ujung ujungnya akan menyakiti manusia itu sendiri. Global warming adalah contoh nyatanya.

Untuk menjaga palemahan awig awig/hukum hukum dan aturan aturan haruslah menjadi pagar hidup yang tidak boleh diganggu dan disakiti. Hukum hukum dipelihara dan disayangi sebagai sesuatu yang sakral dan suci. Karena hukum hukum itu dibuat berdasarkan ajaran Tat Wam Asi. ( Hukum Kesetaraan ). Aku adalah Dia. Dia adalah Aku. Seandainya Aku menjadi Dia. Seandainya Dia menjadi Aku. Masyarakat yang menegakkan hukum dan menghormati disebut masyarakat Kertha Gama. Tri Hita Karana menjamin peluang penuh untuk terwujudnya Negara Kertha Gama. Sebuah negara yang damai dan lestari

Tapi ketika Palemahan dianiaya dan dikuliti, maka Pawongan dan Prahyangan akan sakit. Kebijakan dan arah pemerintahan haruslah pro Pawongan, dengan jalan melstarikan Palemahan sehingga Pawongan dan Prahyangan dapat tumbuh. Peningkatan penghasilan keluarga, peningkatan taraf kesehatan dan pendidikan adalah tindakan yang pro Pawongan. Hal ini akan terwujud apabila masyarakat tetap dapat berkreativitas dalam kondisi yang beradab. Kondisi alam yang beradab dan kondisi hukum yang beradab.

Di Bali ada larangan untuk membuat bangunan lebih tinggi dari 15 meter. Katanya itu merupakan bisama kesucian. Akibatnya adalah semakin berkurangnya ruang bebas (free space) karena pembangunan akan cendrung melebar dan mengambil luas lahan kesamping. Hal ini membuat harga tanah di Bali dan Badung pada khususnya menjadi tak terjangkau para keluarga keluarga pemula. Mereka terpaksa tinggal dan hidup dalam suasana kumuh yang berpotensi penyakit. Disamping itu ruang hijau yang segar menjadi sempit.

Sepertinya ini adalah bisama yang kurang pro Pawongan. Kesucian tak mengenal ketinggian. Ukuran tinggi rendah sehari hari adalah ukuran relatif. Jika kita turun menembus bumi maka kita akan muncul naik di permukaan bagian Bumi di seberang. Atau jika di Indonesia kita turun menembus Bumi maka akan muncul di Amerika.

Tinggi rendah secara kosmologi tidak ada. Jika kita terbang ke angkasa luar maka disana tak ada tinggi rendah. Karena tak ada lagi gravitasi. Apalgi di Inter stelar space ( ruang antar bintang) maka sama sekali tak ada gravitasi sehingga tak ada tinggi rendah, Bahkan sel sel kita disana akan berhenti bekerja karena hampir tak ada waktu. Apalagi dikaitkan dengan stana para Dewa yang pada intinya hanya merupakan personifikasi alam. Maka Dewa Dewa itu bukanlah mahluk 4 dimensi seperti kita. Mereka adalah mahluk diluar 4 dimensi. Jadi tak ada urusan dengan tinggi rendah seperti difinisi kehidupan kita sehari hari di dunia 4 dimensi.
Kekurangbijakan pasti akan meminta korban. Kalau tidak, tak akan bisa bijak.. Bisama yang melarang bangunan lebih tinggi dari 15 meter akan meminta korban, berupa penyempitan lahan hijau yang sehat. Disamping harga tanah akan melangit ( buble price). Kenapa orang Bali tidak berfikir cerdas sesuai dengan ajaran Saraswati?. Kenapa tidak dari sejak awal menentukan lokasi lokasi bangunan pariwisata yang merupakan komplek pemukiman turis. Biarkan tinggi bangunan itu tak dibatasi. Juga bagi para pendatang ( duktang) kalau ingin membangun sediakan lokasi khusus sehingga perkembangan kota tidak semrawutan. Jangan batasi ketinggian mereka. Bila perlu Pemerintah membuatkan apartemen apartemen untuk mereka, dan mereka boleh membeli atau menyewa. Tempatkan apartemen apartemen itu di daerah yang kurang produktif dan jauh dari permukman virgin, sehingga kita tetap mempunyai lahan pertanian yang subur.

Jika para turis dan duktang dibuatkan apartemen atau hotel yang beralokasi sepanjang daerah pantai yang mengelilingi Bali, maka di tengah tengah pulau Bali tetap ada space atau ruang asri yang lega dan hijau. Desa desa tak terdesak diserbu oleh pasukan beton seperti sekarang ini. Kegiatan peribadatan dapat berlangsung dengan tentram. Wilayah pedesaan tetap damai tak terimbas oleh budaya matrialis, sehingga desa desa pakraman tetap trepti.

Biarkan ada pencakar pencakar langit yang mengelilingi pulau Bali bagai pagar yang kokoh. Untuk tempat Ida Bethara melelasti tentukan lokasi lokasi pantai yang dianggap keramat dan bebas dari bangunan. Dengan adanya kemajuan dibidang transfortasi maka tak sulit untuk menjangkau pantai tersebut dari tempat manapun di Bali. Tiap kabupaten memiliki 2 sampai 3 lokasi pantai keramat tempat melelasti.

Dengan dialokasikannya bangunan bangunan pada daerah tertentu dan tidak dibatasinya ketinggian mereka, maka Bali akan tetap mempunyai ruang ( space) yang ”Clean and Green”.

Begirtu pula wacana untuk mengharuskan agar bangunan di Bali harus sesuai dengan arsitektur Bali akan membuat Bali ini tetap berjalan di tempat. Budaya adalah denyut dinamika sesuai dengan kultur jamannya. Tri Hita karana tetap akan melahirkan budaya agung dalam era apapun. Tetapi yang satu ini tak boleh ditawar, yaitu jangan sampai mengoyak Palemahan.

PERASAAN MURNI AKAN MEMBANGKITKAN TAKSU


Perasaan yang labih murni, lebih halus dan lebih tinggi akan membangkitkan kreativitas kreativitas tinggi. Akan membangkitkan Taksu.

Di Bali budaya seni baik seni tari, musik, lukis, pahat, sastra dan sebagainya adalah alunan dan pahatan perasaan yang dipandu oleh aura Taksu Prahyangan. Taksu inilah yang menghidupi roh budaya Bali. Taksu Prahyangan yang melecutkan energy murni, halus dan kasih yang menuntun segala gerak kehidupan kepada persembahan bakthi kehadapan Hyang Widhi Wasa dengan penyerahan total.

Energy Prahyangan ini yang membimbing gerak dan langkah tarian Bali menjadi lemah gemulai, tersentak tajam, mantap dan mempesona. Setiap denyut gerak tari Bali seperti menyentak setiap atom di alam ini untuk ikut menari sehingga menarik setiap jiwa untuk ikut menari. Tarian ini sudah dari dulu mengundang decak kagum dan melelehkan setiap hati. Karena energy perasaan dalam tarian itu dibawah bimbingan aura dan taksu Prahyangan.

Jika suatu saat nanti aura Prahyangan memudar maka Taksu budaya Bali akan redup pula. Gadis gadis Bali akan menari bergoyang kekanan dan kekiri, kedepan dan kebelakang, lalu mengangkang dan telanjang. Ini adalah tarian frustasi, tarian kalah, tarian pecundang, tarian tanpa bimbingan energy, tanpa perasaan.

Ajeg Bali adalah bertujuan untuk tetap menjaga dan menjunjung ajaran dan filosofi Prahyangan dari Tri Hita Karana. Ajeg Bali bukan untuk melestarikan tarian dan pakaian adat Bali. Budaya Bali bukan harus status Quo. Kita bukan hanya pewaris sebuah kebudayaan agung dan penuh pesona tapi kita adalah penerusnya.

Ajeg Bali bukan unuk melestarikan budaya, sebab budaya Bali bukanlah satwa langka yang harus dilindungi dan dilestarikn. Budaya Bali harus kita hidupi, hidup dengan budaya Bali, kita harus meneruskan dan mengembangkan budaya Bali ke depan yang lebih inovatif lebih maju, lebih unggul dari sebelumnya, lebih berEnergy Prahyangan dan Bakthi.

Kita bukanlah penonton dan pengumpul reruntuhan sebuah puing puing kejayaan dan keemasan sebuah budaya nenek moyang. Kita adalah penerus dengan tugas beban dan tanggung jawab yang lebih besar terhadap budaya itu. Jika budaya adalah kolam maka kita adalah ikan yang hidup di dalamnya, sementara para pelancong adalah mereka yang berdiri di pinggir kolam.

Budaya Bali bukan tontonan untuk dijual, tetapi budaya itu adalah kebutuhan kita untuk kita hidupi, karena budaya itu telah terbukti eksis secara meyakinkan sejak zaman dulu dengan penerapan yang jelas dari prinsip prinsip Tri Hita Karana.

Prinsip prinsip Tri Hita Karanalah yang harus kita jalankan dan hidupi, karena ini hanya satu satunya di dunia. Ketika banyak kehidupan bangsa bangsa lain di dunia terlunta lunta mencari acuan dan cahaya terang prinsip prinsip kehidupan, maka kita sudah punya Tri Hita Karana yang telah terbukti dan teruji sepanjang masa.

Ajeg Bali bukan identik dengan berpakaian Bali, bukan menari Bali dengan patokan kaku agar tetap seperti ” Bali Mula ”, agar dapat di jual sebagai obyek pariwisata. Tindakan dan paham itu sungguh sebuah pelecehan dan perendahan terhadap nilai nilai leluhur kita. Dengan kata lain sungguh sungguh kita telah buta dan tidak mengerti kenapa leluhur leluhur kita zaman dahulu hidup dengan prinsip prinsip Tri Hita Karana.

Energy Prahyangan, Pawongan, dan Palemahanlah yang terlebih dahulu ada dan dihidupi, maka barulah sebuah Budaya yang penuh taksu mempesona akan lahir dengan sendirinya. Kelahiran budaya ini tak bisa dirancang dan diduga bagaimana bentuk dan kwalitasnya. Tetapi jika ajeg Tri Hita Karana tetap kita hidupi maka akan lahir lagi budaya budaya Bali yang jauh lebih mengagumkan bahkan diluar kemampuan kita untuk membayangkan. Dengan kata lain, bahwa jika roh Tri Hita Karana tetap hidup pada generasi penerus kita, maka Bali kedepan akan menghasilkan nilai nilai seni budaya yang jauh lebih eksotik dan mengagumkan dari budaya leluhur sebelumnya.

Sejarah telah mencatat candi Prambanan dan candi Borobudur yang telah menjadi icon dunia dan telah berhenti pada puncaknya. Setelah itu tak ada lagi candi candi yang lebih hebat dari kedua candi tersebut. Hal itu disebabkan karena roh roh dari energy yang menghidupinya telah sirna. Coba kalau tidak, maka pastilah ada lagi candi candi yang lebih hebat dari kedua candi tersebut yang dibangun oleh generasi penerusnya. Dengan kata lain kedua candi tersebut belumlah puncak budaya. Sebuah budaya mulai redup dan padam karena roh roh yang menghidupi budaya itu mulai hengkang.

Sekarang ajeg Bali sepertinya memasung gerak dan tumbuhnya sebuah budaya, memaksa budaya ini untuk berdiri dan berjalan di tempat. Akan menjadi membosankan, dan memuakkan.

Orang orang yang duduk sebagai memegang kebijakan diharapkan lebih memahami apa itu Tri Hita Karana. Jangan seperti burung beo. Bisa meniru tapi tak paham.

Aura Prahyangan akan membangkitkan energy kesucian, energy kemurnian dan kebenaran. Aura Pawongan akan membangkitkan energy kedamaian dan kebahagiaan, dan Aura Palemahan akan membangkitkan energy keindahan. Itulah Satyam, Sivam Sundaram.

Tri Hita Karana adalah perwujudan dari Styam, Sivam, Sundaram. Tri Hita Karana adalah Phylosofi of life masyarakat Bali. Adalah The Way of Life. Tri Hita Karana bukanlah tujuan, bukanlah target sasaran, tapi udara dan air dalam tubuh kita. Dia adalah Roh Bali. Tri Hita Karana adalah kehidupan yang hidup dinamis. Adalah sebuah dinamika kehidupan yang tak pernah diam dan berhenti pada tempatnya. Dia adalah napas kehidupan.

Prahyangan adalah cinta Bhakti kepada Tuhan ( Hyang Widhi). Cinta yang dalam dan murni seperti ini( deep divinety), akan banyak menstimulasi kreativitas yang didasari perasaan halus dan murni. Puncak puncak kreativitas manusia semua lahir dari energy deep divinety. Hidupkan roh Prahyangan, bangkitkan cinta bhakti kepada Hyang Widhi, maka akan lahir taksu taksu yang mengagumkan.

Monday, December 26, 2011

EGO AKAN MENDEPAK ANDA KE DALAM KEGELAPAN


Ego adalah bentuk awal dari eksistensi pikiran. Ego ingin menyatakan bahwa saya ada. Lalu ingin bereksistensi untuk membuktikannya. Pemberian nama adalah peletakkan batu pertama tempat tumbuhnya ego. Padahal nama tidak lebih hanyalah sebuah label biasa.
Nama adalah label untuk setumpuk daging, tulang dan darah. Tapi orang orang semua pada suka dengan label ini. Mereka menambah kegagahan label ini dengan hiasan pernik pernik yang lain seperti gelar, kesohoran, pangkat dan lain lain. Bahkan untuk sebuah label mereka siap saling berperang dengan sesamanya.

Saya jadi teringat dengan sebuah film yang bagus yaitu ” The God Must Be Crazy ” . Suku suku di pedalaman Afrika bertempur hanya untuk memperebutkan sebuah botol yang jatuh dari pesawat. Mereka menganggap itu benda dari para dewa sebagi simbul kejayaan suku. Itulah label.

Tapi suatu hal yang tidak dimengerti sampai saat ini adalah kenapa manusia senang melakukan hal hal ynang sia sia.

Ego akan membuktikan nama tersebut eksis adanya. Pikiran percaya bahwa nama itu adalah mewakili eksistensi dirinya. Pikiran tidak sadar bahwa nama itu tidak lain hanyalah sebuah label yang diberikan terhadap setumpuk gumpalan daging darah dan tulang yang disebut tubuh. Ego akan mencuci pikiran bahwa nama itu adalah sebuah diri yang eksis di alam ini. Ego semacam ini tidak terjadi pada para hewan, para tumbuhan dan hanya pada para manusia. Untuk mempertahankan nama itu ego siap memacu pikiran untuk bersaing, dengan lingkungannya, bahkan berperang sekalipun. Sungguh sifat yang sangat lucu. Ketika orang memaki maki nama anda sebenarnya dia sedang mengata ngatai terhadap beberapa suku kata saja. Nikmatilah itu sebagai lelucon saja.

Egolah yang memacu pikiran untuk menjadi terkenal, kaya, berkuasa atau berpangkat tinggi. Oleh karena itu ego menghalang halangi hati untuk mencoba melihat semuanya ini secara obyektif, karena ego sangat subyektif. Egolah yang membungkus kesadaran terhadap segala sesuatu sebagai apa adanya. Ego tidak lain adalah kabut kegelapan dari kesadaran. Bahkan sampai sekalipun ajal datang menjemputnya ego masih membungkus pikiran pada kotak hitam kegelapan.

Oleh karena itu jika di Bali ada raja yang wafat maka dilakukan upacara Naga Banda. Naga artinya besar dan Banda artinya beban. Sang raja ditengarai selama hidup memiliki beban keterikatan yang sangat besar terhadap berhala ( ego), yaitu kekuasaan, kemewahan duniawi dan napsu rendahan lainnya. Maka roh sang raja harus dibebaskan dari keterikatan itu dalam upacara Naga Bandha.

Ini mungkin dipengaruhi oleh kultur dan filosophi Cina bahwa Naga menggambarkan sesuatu yang besar dan berkuasa. Singkat cerita dalam rangkaian puncak upacara Pelebon tersebut seorang pendeta raja ( Bhagawantha ) akan melepaskan panah terhadap Naga Banda tersebut sehingga roh sang raja bisa bebas menuju alam astral yang benar. Kalau tidak maka sang raja akan ber Reinkarnasi menjadi mahluk mahluk rendahan.

Jadi kesadaran pikiran harus di ajarkan awas terhadap manifestasi ego ini yang akan menjerumuskan kedalam jurang ketidak sadaran. Oleh karena itu belajar rendah hati dalam menjalani hidup sehari hari adalah suatu sikap sadar akan bahaya ego ini.

Sahdan dikisahkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah menerima tamunya, dengan meletakkan sorban penutup kepala sebagai alas duduk tamunya. Apa artinya itu ? Itulah menunjukkan kwalitas seorang Nabi. Beliau telah membunuh egonya. Beliau tak punya ego. Suci lahir bathin. Beliau menunjukkan jalan kebenaran, jalan berserah diri dengan mempertegas ke Islaman.

Islam artinya bersih. Bersih Badan, bersih Pikiran dan bersih Hati. Bersih badan dengan jalan menghindari makanan dan minuman yang menyebabkan mabuk dan sakit. Melakukan puasa. Bersih pikiran dengan menghindari hal hal sensual yang menggoncang pancaindra. Seperti melihat hal hal sensual yang menggoda, mendengar hal hal sensual yang menggoda. Karena semua ini akan menghambat pembersihan pikiran. Membersihkan hati dengan menghindari kata kata kotor, menghindari rasa iri, marah dan dengki. Membersihkan jiwa dengan berserah diri total kehadapan Allah. Selalu mengisi Hati, Pikiran dan Jiwa dengan Allah membuat secara tak sadar akan terbawa kejalan kesadaran dan kesucian.

Islam adalah jalan kesadaran, jalan kesucian lahir bathin, jalan kedamaian ( Chantih). Sudah tidak bisa dipungkiri bahwa jika dalam sebuah rumah ada seorang Islam ( suci lahir bathin), bukan Islam KTP, maka seisi rumah itu akan dibanjiri dengan kesejahtreraan lahir bathin. Demikian pula jika ada beberapa orang Islam dalam sebuah desa maka desa itu akan menjadi tenteram, sejahtra dan damai ( Canthih)

Nabi Muhammad SAW berperang bukan karena rasa benci atau ingin berkuasa, tapi karena cinta kasih yang tulus. Beliau gregetan melihat orang orang hidup tanpa berkesadaran, beliau kasihan ingin mengajak mereka berjalan dalam kebenaran dalam kesadaran. Bukan saja musuh yang Beliau kalahkan yang masuk Islam tapi juga musuh musuh yang mengalahkan Beliau masuk Islam dan bersujud di kaki sang Nabi. Karena perang Beliau adalah perang cinta kasih. Perang untuk mengantarkan umat manusia menuju jalan kehidupan suci lahir bathin yaitu Islam. Rupanya inilah perang cinta kasih yang pertama dan terakhir di planet Bumi. Mereka yang hanya berpatokan secara kaku dan beku pada ayat ayat sang Nabi bisa terjebak pada tafsir yang sempit, fanatik dan menyimpang tentang Misi dan Visi ayat ayat sang Nabi. Hasilnya adalah terrorisme. Padahal Sang Nabi pada intinya menebar jalan kedamaian ( jalan Chantih di tanah Arab) untuk dunia dan kemanusiaan. Untuk keberadaban. Untuk kedamaian ( Chantih).

Mengejar superioritas diatas sesama dalam bentuk apapun baik kekayaan, kekuasaan, ketenaran, kepangkatan adalah pacuan dari ego. Itulah berhala. Sang ego. Ingatlah bahwa kita tidak lebih dari bangunan setumpuk daging darah dan tulang yang merupakan rangkaian dari kehidupan 60 trilliun sel yang sama sama merangkak di permukaan planet ini untuk kurun waktu yang tidak terlalu lama. Kita bukanlah mahluk yang berasal dari planet ini, tapi pakaian kita (badan kita) sepenuhnya di buat dan disusun oleh bahan bahan dari planet ini.

Selalulah sadar dan menyimpan rasa damai di hati untuk sesama dan lingkungan. Jangan sampai di butakan kesadaran kita oleh lecutan lecutan ego. Karena semua iti terlalu anak anak dan akan membawa kesengsaraan, ketidakpuasan dan penderitaan, baik terhadap diri sendiri, sesama maupun lingkungan. Ego juga menyebabkan roh kita akan terkatung katung dalam perjalanan setelah kematian ( after life journey).

Di Tibet jika ada warga meninggal maka para Bhiksu akan bergantian tiap 8 jam mendoakan agar arwah/roh orang itu dapat berjalan dengan damai meninggalkan jasad fisiknya menuju alam astral yang benar. Doa itu dilakukan selama 3 hari berturut turut siang dan malam. Karena sebelum 3 hari roh belum menyadari akan perpisahannya dengan tubuh jasmaninya. Roh itu dalam pandangan astral persis seperti rupa jasmaninya, tapi tampak sebagai asap kelabu yang selama 3 hari masih berputar putar mengitari badan jasmaninya. Jika tak ada orang, keluarga yang mendoakan agar ia menemukan jalan jalan menuju alam astral yang benar maka roh roh tersebut akan gentanyangan menjadi hantu, jin, setan , gamang dan sebagainya.

Oleh karena itulah di Bali upacara dan doa orang mati sangat kompleks dan juga mantra mantra pendeta untuk hal itu sangat khusus. Jangan coba coba menggunakan banten atau mantra yang salah, akan berbeda hasilnya. Semakin besar ego tersebut tumbuh maka semakin besar keterikatannya terhadap duniawi, semakin sulit melepaskan ikatan dalam perjalanan roh.

Oleh karena itu bahaya ego sangat besar, merusak kesehatan sendiri, hubungan harmonis dalam keluarga ( karena ingin mengejar kedudukan atau posisi tertentu di masyarakat sampai sampai tak ingat anak istri) dan mengorbankan sebagian masyarakat maupun lingkungan.

Seperti juga Krisna yang merupakan tokoh sentral perang Bharatayuda, adalah karena Krisna telah melihat para pemimpin Kurawa telah keluar dari jalan Damai ( Chantih). Pemimpin yang mabuk mabukan, berfoya foya, korupsi, free sex, narkoba dan sebagainya akan cepat berimbas pada rakyatnya dan ujung ujungnya kehancuran tatanan sebuah negara dan kesengsaraan rakyat. Oleh karena itulah Krisna menyuruh Arjuna untuk berperang demi menegakkan kebenaran dan menebarkan permadani kedamaian ( Chantih) untuk kehidupan orang banyak.

Bukan berarti tidak boleh menjadi kaya, berpangkat atau pejabat/penguasa, tetapi buatlah kekayaan itu bermanfaat untuk orang banyak dengan membuka usaha sehingga dapat menampung tenaga kerja dan membangun kesejahteraan karyawan. Juga mengajarkan karyawan untuk bersikap efficient dalam segala hal. Kontrollah ego.

Begitu juga jabatan adalah suatu mandat tugas pengabdian ( orang Bali menyebut ”Ngayah ”), adalah benar benar menjadi abdi terhadap masyarakat. Dengan demikian ego bisa ditekan agar tidak melunjak menguasai diri kita. Demikian halnya pangkat atau gelar kesarjanaan tidak lain adalah suatu prestise yang melekat dengan tanggung jawab akan memanfaatkan ilmu pengetahuan sebesar besarnya untuk kesejahteraan masyarakat dan jangan menggunakan kepandaian untuk menipu atau merugikan masyarakat dan lingkungan.

Betapa ego harus tetap di kuasai, semakin tinggi kedudukan seseorang di masyarakat dalam lini apapun semakin berat tantangan untuk mengawasi keadaan egonya sendiri. Ada pepatah Yunani kuno mengatakan ”Power tend to Corruption ”, hati hatilah dengan hal itu, karena itu tidak lain adalah ego.

Kejarlah semua puncak puncak duniawi sebagai perwujudan dari ” Patti Bhawana ” ( keinginan untuk menjadi ), tapi tetaplah sadar untuk mengontrol dan mewaspadai ego. Karena egolah yang akan selalu siap untuk mendepak anda keluar ketempat yang paling marginal di kegelapan kehidupan saat ini dan sesudahnya.

PIKIRAN TAK MEMILIKI INTI DIRI


Pikiran itu muncul dan hilang bagaikan gelombang lautan, datang dan pergi bagai awan bagai angin, kelap kelip bagai api lilin. Pikiran tak memiliki substansi yang nyata , tak memiliki inti diri, tak memiliki kesatuan tertentu, selalu berubah ubah tak terduga.

Seperti semua materi di alam ini tak memiliki substansi nyata, tak memiliki inti diri. Persis dengan apa yang dikatakan oleh Ajahn Brahm seorang Bhiksu Budha dari Australia, bahwa kitapun tak memiliki inti diri. Apa yang kita sebut diri selama ini adalah palsu, hanya sebuah label nama yang diberikan dari kecil, hanya sebuah benih pikiran “ bahwa kita ada” yang disebut Ego. Kita merasa tubuh kita, pikiran kita dan ego kita adalah sebuah diri, padahal semua itu palsu, tidak nyata. Nama hanya sebuah label atas setumpuk daging, tulang dan darah. Ketika manusia memberikan label terhadap semua mahluk dan benda yang ada, maka manusia cendrung berfikir dan bersikap tidak obyektif. Hal ini menyebabkan manusia tertutup keinginan untuk mengetahui apa yang sebenarnya yang disebut realitas sejati.

Nama nama membuat manusia berfikir subyektif. Binatang binatang dan tumbuhan tak tahu nama, bahkan namanya sendiri. Hal ini membuat ia lebih tenang dan lebih obyektif memandang sesuatu, walaupun dalam spektra yang terbatas.

Ketika kita mati kita hanya sebuah energy momentum yang memiliki kecendrungan vektor tertentu dan akan bergerak menuju suatu tempat sesuai dengan hukum abadi dari alam yaitu Hukum Karma. Setiap kita berpikir, berkata dan berbuat dalam hidup ini maka secara tak disadari kita akan melepas energy ke alam ini. Dan alam ini akan menyimpannya baik baik. Energy ini akan balik bekerja kepada sumbernya dalam rangka keseimbangan ( Chantih). Seperti sebuah batu yang dicemplungkan ke kolam yang tenang maka air kolam akan bergerak dalam bentuk gelombang kecil yang mengarah keluar mejauhi tempat jatuhnya batu untuk sesaat, tetapi kemudian setelah itu akan bergerak kedalam lagi sehingga air kolam tenang lagi.

Saat kita masih hidup kita bisa saja berkelit, berbohong, menipu dan sebagainya dengan lincahnya dengan mendayagunakan kecerdasan pikiran bagai seekor ikan yang meliuk liuk di sungai melawan arus air, tapi setelah kematian kita bagai selembar daun kering yang hanyut di arus air. Saat inilah momentum Karma akan berkerja sempurna.

Jadi berbagai jenis energy yang kita lepaskan ke alam baik berupa pikiran, kata kata dan perbuatan nyata tidaklah hilang begitu saja. Menurut Hukum Newton energy di alam ini konstan, hanya berubah dalam bentuk massanya saja. Air diberikan energy panas akan berubah menjadi uap dan kalau didinginkan akan berubah menjadi air lagi. Energy matahari akan dirubah dan disimpan oleh zat chlorophil di daun sebagai bahan untuk menjadi bunga atau buah.
Begitulah energy berubah ubah menjadi energy panas, energy kinetik, energy elektrik, energy gravitasi, energy tekanan, energy magnetik, energy radiasi dan lain lain dalam Hukum Kekekalan Energy.

Segala energy yang kita lepaskan dalam hidup ini ke alam semesta akan menjadi suatu energy potensial yang akan menggiring kita pada kecendrungan kecendrungan sesuai dengan sifat energy yang kita lepaskan, itulah prinsip Hukum Karma. Kalau kita jahat maka cendrung masuk ke alam jahat dan sebaliknya. Tak seorangpun mampu melakukan intervensi terhadap Hukum Karma sekalipun para Dewa atau Tuhan.

Budha menyebut Pattica Samupadha yaitu sebab musabab yang saling bergantung. Tak ada istilah Reward dan Punishment disini, Hukum Karma tak bisa di tombok dengan apapun. Tak ada istilah hukuman dan penghargaan dalam hukum Karma. Tak ada isitlah menebus dosa, Tak ada istilah Multi Level Marketing disini. Hukum Karma bukan Hukum bisnis. Anda sendirilah yang menciptakan perjalanan dan kehidupan anda setelah kehidupan ini. Bukan siapa siapa.

Kembali tentang pikiran yang tak mempunyai inti diri, itu sama dengan pasir di pantai kelihatan dari jauh sebagai hamparan lantai putih di tepi laut. Kelihatan merupakan kesatuan berbentuk lembaran tetapi coba dekati dan perhatikan dari jarak sangat dekat atau ambil segenggam, maka pasir pantai itu tidak lain hanyalah butiran butiran pasir yang terpisah satu dengan yang lainnya. Dan diantara butiran tersebut ada ruang kosong.

Demikian pula dengan air yang mengalir di sungai kelihatan menyatu sebagai kesatuan, tapi coba ambil setetes dan amati dengan pembesaran mikroskoop elektron , maka tampak molekul molekul air ( H2O), yang terpisah satu dengan lainnya dan diantaranya ada ruang kosong. Demikian juga cahaya matahari pagi yang menembus kamar lewat celah jendela, tampak memancar putih bagaikan sebuah kesatuan, tapi coba cahaya itu di Freze atau dibekukan lalu amati dengan pembesaran tingkat atom, maka akan tampak butiran butiran Photon dan Deutrium yang berderet deret dan diantaranya ada celah celah ruang kosong. Butiran butiran Photon dan Deutrium ini adalah unsur unsur pembentuk cahaya ( The Structure of Light). Inilah yang sering disampaikan oleh Ajahn Brahm bahwa tak ada yang benar benar sejati memilki inti diri di alam ini. Budha menyebut Annata.

Apalagi tubuh kita terdiri dari 60 -100 trilliun sel, jelas diantara sel sel itu ada ruang ruang kosong, bahkan didalam selpun terdiri dari inti sel ( Nucleus ) dan Cytoplasma. Cyto palsma terdiri dari badan badan Golgy tempat RNA mensintese protein. Didalam sel terdapat cairan dan ruang kosong diantaranya. Bahkan diantara molekul molekul protein dan lemak dan molekul lainnya yang menyusun dinding sel ada ruang kosong. Jadi tubuh kitapun tak memiliki sebuah kesatuan substansi yang nyata, hanya susunan beberapa kehidupan yang membentuk suatu bentukan tubuh. Anda masih bisa hidup tanpa tangan, tanpa kaki.

Begitu pula atom, 99 % adalah ruang kosong, karena di atmosfir atom hanyalah kekosongan.

Jadi jelas bahwa alam ini 99 % adalah ruang kosong atau Bhuta. Begitulah pikiran tak memiliki substansi yang nyata, alam ini sebenarnya adalah kekosongan abadi, kekosongan adalah kedamaian (Chantih). Kedamaian adalah Freedom.

Jadi alam ini adalah Chantih. Tujuan kita menuju Chantih, namun pikiran kita selalu bergerak setiap hari menjauhi Chantih.

Dalam kekosongan pikiran kedamaian akan muncul nan mempesona, Chantih akan mewujud dalam warna warni keindahan, dan keagungan kebahagiaan yang sempurna .

Orang tak sadar menganggap pikirannya adalah dirinya, milik dirinya, hasil dari dirinya, menganggap dirinya punya pikiran dan pikiran itu memiliki substansi. Itulah kegelapan dari kebodohan. Sebab kita tak memiliki substansi yang nyata baik sebagai tubuh fisik maupun pikiran.

jasa arsitektur rumah dan desain villa, klik disini...